TANGGAL SATU

“ Pada dasarnya aku adalah pewaris sebab akibatku, aku tahu waktu hanya berputar satu kali dan kesempatan bagai dadu yang menggelinding tak tentu. Aku tahu bahwa hari ini adalah salah satu peristiwa yang hanya satu kali terjadi. Dimana dia memilih jalannya, dan aku memilih akibat dari jalannya itu. Perpisahan tak tersurat ini akan berlaku sekali, simaklah perasaan ini sekali lagi, dan pastikan untuk yang terakhir apakah yang dia ambil adalah benar“
 
2 April....
Aroma embun pagi itu, mungkin bukti bahwa aku telah menjadi salah satu saksi mendungnya hari itu. Matahari yang telah lama menjadi idola pagiku pun kala itu enggan menampakkan wibawanya, seolah pada alam telah bercengkerama dengan alam bawah sadarku bahwa kesedihanku telah mereka rasakan pula.
Selasa, hari itu memang nampak gelap. Mungkin ini pertanda kemarau akan segera berakhir. Aku pun sedang berfikir untuk membeli jas hujan baru dan jaket sebagai langkah waspada akan hujan.
Toko “Dyra” menjadi andalanku saat musim berganti. Menurutku pemilik toko itu sangat pandai membaca situasi, apapun yang sedang khalayak butuhkan, mereka selalu menyediakan, dan toko itu punya nilai tambah bagiku.
(Mungkin aku harus pergi ke ATM untuk mengambil gaji ku yang masih separuh, ini sudah hampir gajian lagi)

“ Amira, assalamualaikum”
“Waalaikumsalam, bisa saya bantu ?”
“ Ada, bisa saya berkenalan kembali dengan Amira Rahajeng yang 7 tahun lalu satu bangku dengan Rio Agustian ?”
“ Rio??? Haloo, aku pangling sekali, lama sekali kita nggak ketemu”
“ Kabar baik aku, kamu gimana? Sudah lulus S2 kah ?”
“Aku sudah lulus 1,5 tahun yang lalu, dan kamu ? Terlihat sudah seperti mas-mas  yang beristri”
“ Heyyy, jangan mengejek muka ku yang berwibawa, haha. Aku sudah menyelesaikan D4 ku 3 tahun lalu, memilih bekerja itu mungkin pilihan yang bijak ketimbang lulus S2 dengan alasan mengejar dunia. “
“ Salut, by the way, lagi free kah ? Tinggal dimana ?”
“ Hari ini libur, di seberang gang melati sana, Kamu ?”
“ Hey rumah kita dekat, aku di gang melati juga blok 4, kebetulan baru pindah seminggu, ngikut kerjaan yang juga pindah dekat sini, sekali-sekali mampir ke gubug ku,dulu SMA kita geng bukan haha”
“ Boleh Mir, lusa aku main dengan adikku, sekalian nyapa tetangga baru yakan haha”
“ hahaha... boleh”
******
Rio, semasa SMA adalah siswa idola adik dan kakak kelas, dia tidak tampan, namun wibawanya yang sangat terkenal di kalangan guru hingga komite. Banyak yang mengagumi dirinya karena cara berkomunikasi yang nyaman di dengar dan pribadinya yang baik, santun, serta asik. Bahkan sahabat perempuan atu-satunya pun ikut terpesona. Iya... dia adalah aku, pengagum dirinya hingga sekarang, walau sudah 7 tahun tidak bertemu. Pertemuan ini adalah hal terbaik yang pernah ku dapat, seolah Tuhan telah memberikan kebahagiaan di waktu yang tepat.

*******
10 April,
Pekerjaan menumpuk, adalah makanan sehari-hari. Bayangkan saja ini sudah hampir mepet waktuku untuk weekend, namun apa daya, ini adalah tuntutan.
Aku berniat meminta bantuan Rio kala itu, karena dia bilang dia sedang free. Mungkin dia bisa membantuku menyelsaikan ketikan-ketikan ini untuk berapa halaman saja. Karena kupikir dia tidak keberatan akan hal ini.

“ Gimana bu ? Ada yang bisa saya bantu?”
“ Ri, boleh dong minta tolong ketikin kerjaanku, banyak banget nih numpuk.”
“ Boleh asal ada upah ya haha...”
“ Iya gampang kalau itu.”
Kemudian aku dan Rio berada pada satu keadaan yang sama,menghadap laptop dan misi penyelesaian data-data. Aku sempat menatapnya untuk beberapa saat. Ternyata perasaan itu masih ada, dan kutatap lagi dalam-dalam, ternyata memang dia masih bersemayam di lubuk hatiku. Ku palingkan agar dia tidak curiga, aku pikir ini bukan waktunya untuk berlarut-larut dalam perasaan tak berguna ini.
“ Bu , ini sudah selesai, aku tahu kerjaanmu yang dibebankan aku lebih banyak darimu, ini pemerasan, cepat ayo keluar cari makan, aku sudah lapar.”
“ Oke haha, termakasih bantuannya. Sebentar aku mau pulang nanti kamu jemput aku di depan, kita ke rumah makan depan.”
Pukul 3 sore, aku dan Rio berjalan menuju rumah makan yang hanya berjarak 500m dari rumahku. Aku merasakan dia masih Rio yang sama, hangat, berwibawa, dan asik.
Lantunan lagu kla project- Yogyakarta mengiringi santapan yang keluar dari balik tirai. Aku ingat betul, ini lagu andalan Rio ketika mengajakku dan Fariz serta Dimas ke tongkrongan dekat Malioboro di Jogja. Ku nikmati lagu itu tanpa sepatah katapun keluar dari mulutku. Rio nampak santai melahap makanan yang telah dia pesan.

15 April,
Semakin dekat jarakku dengan Rio, masih sama seperti dulu,seperti seorang sahabat SMA yang selalu ada dan selalu bercengkerama bersama. Perasaan yang telah lama tidak muncul, kini muncul kembali, entah apa yang aku pikirkan, namun memang benar adanya, perasaan yang lama terpendam memang kini bersemi kembali. Kekagumanku pada sosok Rio yang besar kini malah bertambah besar, dengan sisi matangnya dia sebagai seorang laki-laki, religiusnya sebagai seorang calon pemimpin keluarga, nampaknya dia sudah ingin dan mampu untuk menikah, tambahlah aku percaya diri mampu merebut hatinya. Dan lagi, kelihatannya dia belum ada tanda memiliki seorang tambatan hati. Seolah keadaan berpihak padaku.
Malam itu Rio mengajakku kuar untuk mencari makan malam, katanya dia baru saja gajian dan ingin mentraktirku. Aku iyakan saja karena sudah lama aku tak dinner di luar. Aku langsung percaya diri dia ingin membicarakan sesuatu yang penting denganku.
“ Mir, aku mau curhat.”
“ Boleh, curhat saja.”
“ Kalau dipikir-pikir kita ini sudah berumur ya.”
“ Hahaha. Relatif, kalau seseorang berpikir dia ingin menikah mudah, umur seperti kita ini seperti sudah tidak layak jual,namun kalau berpikir dia ingin karir dulu, umur seperti kita ini mungkin sudah waktunya. Memang kenapa ?”
“ Aku sudah di desak ibu untuk menikah, aku mau, tapi..”
“ Tapi apa?”
“ Aku menungg seseorang saja, sepertinya dia belum siap, aku sudah memikirkannya lama sekali, dan kemungkinan dia tidak respon, aku lihat dia adalah sosok pekerja keras dan terbilang wanita karier, pendidikannya sangat tinggi dan dia adalah wanita yang patut diperhitungkan. Jika dibandingkan denganku, aku mungkin tidak pantas.”
“ Why? Alasanmu serendah itu ? Hey, lihatlah dirimu, kau punya nilai yang lebih diantara laki-laki lain. Jangan merendah dan jangan pesimis.”
“ Aku merasa aku hanya ingin memantaskan diriku saja, hanya itu, dan itu alasanku sekarang ku berjuang mengumpulkan dana agar dia mau tahu seberapa besar usahaku untuk menghalalkannya, kelak aku akan mengatakan bahwa aku telah lama mencarinya.”
“ Mmmm... Its okay, yuk pulang aku ngantuk.”
.........................................................
Harus bagaimakah ? Ternyata seseorang yang aku dambakan, dia sudah memiliki tambatan hati yang lain, bisa apa aku? Bukankah aku hanya sekadar pendukungnya? Aku memang sangat percaya diri. Bisa bisanya aku mengira dia suka padaku? Ahsudah, ini wakuku menghindarinya.

30 April,
Kesibukanku di tempat kerja menita waktuku bersama keluarga dan teman. Aku sangat sibuk menjelang perayaan hari buruh. Banyak sekali yang harus aku kerjakan. Hingga akhirnya aku jatuh sakit dan drop. Aku ingat bahwa memang ini resiko seorang audit.
Sore itu, Rio memberiku pesan singkat,
‘’ Halo Amira, kok sekarang jarang ketemu ya, sibuk kah ? atau ada masalah ? Aku mau bilang aku akan pergi ke Aceh 5 tahun, datang ya. Aku pasti menunggumu dengan Fariz dan Dimas. Mereka sengaja ku hubungi agar kita bisa reuni. Salam hangat, “

Aku pikir aku tak perlu kesana, biar saja aku tidak menemuinya. Rasanya perkataannya kala itu membuatku patah hati. Aku tidak mau lagi bertemu dengannya. Aku takut aku jatuh cinta pada kekasih orang. Aku bukan bermaksut seperti itu. Aku tahu ini berat, namun ini adalah pilihan. Aku harus mengambil apa yang telah menjadi pilihanya.

1 Mei,
  Malam itu, aku mengirim pesan singkat pada Rio,
“ Halo Rio, maaf aku tidak bisa hadir, lewat sosial media kita masih bisa berhubungan, aku sibuk kerja. Salam hangat. “
Aku telihat bodoh sekali mengirim pesan itu, seperti aku sedang menampakkan kedok ku di hadapan lawan, namun biar saja, aku tida perduli. Aku hanya ingin yang terbaik saja.
Aku iseng melihat statusnya di facebook. Dan yang ku temukan sebuah untaian kalimat indah.
“ Bagaimana kisahmu ? Apakah ini sudah waktunya aku melamarmu? Ataukah nanti saja, aku bimbang, andai saja kau bukan orang yang istimewa, pastilah nampak seorang laki-laki yang mendampingimu dengan usang. Dan itulah yang aku benarkan, kau istimewa, sehingga pandanganku terhadapmu berbeda. Siapkah dalam waktu dekat ini kau kubawa ke dunia yang berbeda? “
Semakin hancur dan patah. Aku tidak tahu kapan aku harus menghilangkan perasaan ini. Ini adalah perpisahanku dengannya. Tersirat. Bukan tanpa alasan. Namun, memang inilah apa yang ku dapat. Tanggal 1 Mei, saksi bisu aku dan dia berpisah, tanpa kata, tanpa perbincangan. Ku nyatakan tali persahabatan lepas hingga aku menemukan tambatan hati yang paling terakhir. Aku harap dia bahagia dengan pilihannya, dan aku, aku hanya bisa berdoa, Allah memberiku jalan , dengannya ataupun tidak sama sekali.

Komentar